Rabu, 20 Juni 2012

Amalan wanita yang pertama masuk surga

Tulisan cukup detail tentang wanita pertama yang masuk surga. Tulisan ini ada beberapa versi, namun bagian yang ada 'nafsu syahwat' biasanya di versi lain tidak ada :). Ini contoh versi lain yang lebih pendek.

=waskita=

Sumber http://warkahilmu.blogspot.com/2011/04/siapa-muthiah.html

==========================================

Siapakah sebenarnya wanita yang pertama akan masuk syurga sebelum Fatimah binti Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam?

Dalam sebuah hadis menceritakan, antara kegemaran Rasulullah adalah suka bergurau yang sopan untuk memberi pengajaran. Suatu hari ketika Rasulullah sedang melayani puteri kesayangannya, Fatimah, baginda bersabda, “Wahai anakandaku! Ketahuilah olehmu bahwa ada seorang perempuan kebanyakan akan masuk syurga terlebih dahulu daripadamu.”

Mendengar kata-kata ayahandanya, serta merta berubahlah air muka Fatimah. Bertanya dia kepada baginda sambil menangis, “Siapakah perempuan itu wahai ayahanda, bagaimana keadaannya dan bagaimana pula amal ibadatnya sehingga dia terlebih dahulu masuk syurga daripada anakanda? Khabarkanlah di mana dia sekarang, anakanda mau jumpa dia.”

Lalu Rasulullah menjelaskan, “Dia adalah seorang wanita yang miskin, tinggal di sebuah kampung kawasan pedalaman dekat Jabal Uhud, kira-kira 3 mil dari Kota Madinah. Nama Perempuan itu ialah Muthi'ah.”

Tanpa membuang waktu, setelah mendapat keizinan ayahandanya, Fatimah pun keluar mencari perempuan yang dikatakan oleh Rasulullah itu.

Setelah bertanya kepada penduduk setempat, banyak yang tidak tahu dan mengenali perempuan bernama Muthi'ah ini. Dia bukan perempuan yang terkenal. Masing-masing mengatakan tidak pernah mendengar dan tidak mengetahui hal perempuan ini.

Setelah berbagai usaha mencarinya, dengan izin Allah, akhirnya berjumpalah Fatimah dengan rumah perempuan yang dimaksudkan itu. Rumah Muthi'ah berada di kawasan pedalaman, jauh daripada orang. Mungkin sebab itulah susah mencarinya.

Setelah memberi salam dan beberapa kali mengetuk pintu, hanya suara saja kedengaran menjawab salam dari dalam sedangkan orangnya belum juga muncul. Setelah agak lama Fatimah menunggu, penghuni rumah itu pun menjenguk di jendela, sambil bertanya siapakah gerangan di luar dan apakah hajat kedatangannya. Dia tidak mempersilakan tetamunya itu masuk. Mereka hanya bercakap melalui jendela saja.

Fatimah memperkenalkan dirinya: “Saya Fatimah binti Rasulullah, datang kemari karena hendak berjumpa dan berkenalan dengan kamu.”

Mendengar tetamu yang datang itu ialah anakanda Rasulullah, maka perempuan itu menjawab: “Terima kasih karena datang ke rumah saya, tetapi saya tidak dapat mengizinkan kamu masuk karena suami saya tidak ada di rumah. Nanti saya minta izin dulu apabila dia balik dari bekerja. Silakan datang esok hari sajalah.”

Dengan langkah yang amat berat, Fatimah pulang dengan perasaan yang sangat hampa karena tidak dapat berbincang panjang dan mengorek  rahasia amalannya.

Keesokannya, Fatimah datang lagi bersama-sama anaknya, Hasan. Segera setelah sampai dia memberi salam dan perempuan itu pun terus membuka pintu karena dia sudah mengetahui tetamu yang datang itu ialah Fatimah.

Apabila hendak mempersilakan masuk, tiba-tiba dia terlihat ada seorang anak kecil bersama-sama Fatimah lalu dia bertanya: “Fatimah, ini siapa?”

"Anak saya, Hasan,” sahut Fatimah.

Perempuan itu berkata, “Saya bersedih karena saya belum minta izin dari suami saya. Yang diizinkan hanyalah Fatimah seorang. Oleh itu saya perlu minta izin dahulu dari suami lagi. Silalah datang esok hari saja.”

Fatimah jadi serba salah. Akhirnya setelah berfikir panjang lebar, dia pun ambil keputusan untuk balik.

Keesokan harinya, Fatimah datang pula dengan membawa kedua-dua anaknya iaitu Hasan dan Husin. Setelah memberi salam, mereka segera disambut oleh penghuni rumah itu.

“Fatimah dengan Hasankah?” Tanya perempuan itu minta kepastian.

Jawab Fatimah, “Kami datang bertiga karena anak saya yang satu ini (Husin) mau ikut juga.”

“Fatimah, saya rasa bersedih lagi karena anak yang satu ini (Husin) belum saya minta izin dari suami saya. Silakan datang esok hari,” tegas perempuan itu.

Mendengarkan kata-kata itu, Fatimah tersipu-sipu menyahut, “Baiklah kalau begitu esok saya datang lagi kemari.”

Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, hatinya berkata-kata : “Perempuan ini takut benar akan suaminya, sehingga perkara yang sekecil begini pun dia tidak berani melakukannya. Jika dia benarkan aku masuk, takkanlah suaminya marah. Tak usahlah pandang aku ini siapa, anak siapa dan dua budak ini cucu siapa, pandanglah (hormatilah) aku ini sebagai tetamu yang datang dari jauh saja sudahlah,” bisik hatinya, kesal.

Dalam pada itu, sebaik-baik sahaja suaminya pulang, perempuan itu pun memberitahu tentang budak yang satu lagi ini. Suaminya terkejut dan hairan, “Kenapa engkau ragu sekali? Bukankah Fatimah itu puteri Rasulullahdan dua orang anaknya itu adalah cucu baginda? Lebih daripada itu pun engkau pantas benarkan karena keselamatan kita berdua kelak bergantung kepada keredhaan Rasulullah. Jangan sekali-kali engkau buat seperti itu lagi. Jika mereka datang lagi ke mari dengan membawa apa pun dan siapa pun, terimalah dengan baik, dan engkau hormatilah mereka semua sebagaimana yang pantas bagi darjat mereka.”

Sahut perempuan itu, “Baiklah, tetapi ampunkanlah kesalahan saya karena saya mengerti bahawa apa yang saya tahu, keselamatan diri saya juga bergantung pada keredhaan suamiku. Oleh itu, saya tidak berani membuat perkara yang akan membawa kemarahan atau menyakiti hati suamiku.”

“Terima kasih,” sahut suaminya. “Tapi takkanlah pula sampai engkau tidak menerima tetamu perempuan melainkan dengan izin aku, karena menghormati tetamu perempuan itu wajib pada adat dan agama kita.”

Pada hari berikutnya, Sayyidatuna Fatimah pun datang seperti yang dijanjikan dengan membawa dua orang puteranya itu. Setelah dijemput masuk dan dijamu dengan sedikit buah kurma dan air, mereka pun berkenalanlah serta memulakan perbincangan.

Pertanyaan Fatimah banyak berkisar mengenai rahasia amal ibadat yang menjadi penyebab Muthi'ah menjadi wanita pertama masuk syurga menurut ayahandanya. Setelah memperkenalkan dirinya, Muthi'ah menjawab semua pertanyaan Fatimah dengan ikhlas.

Katanya, “Tingkah laku saya biasa saja, tidak ada yang istimewa, amal ibadat pun biasa saja, malah Rasulullah lebih mengetahui akan segalanya. Saya hanya menuruti apa yang dianjurkan oleh baginda dalam hal kewajiban saya sebagai isteri. Antaranya:
1. Saya tidak boleh meninggalkan rumah jika suami saya keluar bekerja.
2. Saya tidak boleh menerima tamu (terutama lelaki) jika tiada keizinan suami.
3. Saya tidak akan berkeluh-kesah jika suami tidak mempunyai harta.
4. Saya berusaha agar suami saya senang dan cinta kepada saya.
5. Saya tidak cepat-cepat cemburu.
6. Saling mengerti dan menghargai antara kami berdua.

Soal berhias dan berdandan, menurut Mith'iah, dia hanya mengutamakan kecantikannya untuk suami, bukan untuk ditonton dan diperagakan kepada orang lain.

Sebagian riwayat menyatakan, Muth'iah mundar-mandir berjalan ke pintu rumahnya sambil memandang ke jalan seolah-olah sedang menantikan seseorang. Dia seolah-olah tidak begitu mempedulikan Fatimah.

Di tangannya terdapat tongkat dan sebuah wadah berisi air, manakala tangan sebelah lagi mengangkat ujung kainnya sehingga menampakkan betis dan sedikit bahagian pahanya. Wajahnya manis dengan senyuman.

Melihat keadaan Muth'iah yang agak aneh, Fatimah merasa gelisah karena dia rasa tidak dipedulikan. Fatimah bertanya: “Mengapa begini?”

Sahut Muth'iah: “Fatimah, harap maafkan saya karena saya sedang menantikan suami saya pulang.”

“Mengapa ada wadah air itu?” Tanya Sayyidatuna Fatimah. Jawab Muthi'ah jujur: “Kiranya suami saya dahaga pada ketika dia balik dari kerja, saya akan segera memberikan air ini kepadanya supaya tidak terlambat. Jika terlambat nanti dia akan marah kepada saya.”

Fatimah bertanya lagi: “Mengapa dengan rotan ini?” Jawab Muthi'ah, “Jika suami saya marah atau kurang layanan dari saya, mudahlah dia memukul saya dengan rotan ini.”

Kemudian Fatimah bertanya, “Mengapa diangkat kain sehingga menampakkan paha, bukankah itu tidak elok?” Maka Muthi'ah menjawab, “Jika dia berkehendakkan saya, lalu dia pandang saya begini, tentulah akan menambahkan nafsu syahwatnya dan memudahkan akan maksud hajatnya itu.”

Fatimah termenung lalu berkata dalam hatinya: “Jika beginilah kelakuan dan perangainya terhadap suami, tidak dapatlah aku mengikutnya. Wajarlah menurut ayahanda, dia terlebih dahulu masuk syurga daripada aku. Ternyata benarlah bahawa keselamatan wanita yang telah bersuami itu bergantung kepada ketaatan dan keredhaan suami terhadapnya.”

Fatimah minta diri. Dia terus pulang menghadap ayahandanya dan menceritakan segala yang berlaku.

“Wahai anakandaku, itulah rahasianya mengapa Muthi'ah wanita pertama masuk syurga,” kata baginda kepada Fatimah.

Dalam muram dan seakan-akan merajuk, Fatimah menjawab, “Anakanda tidak dapat meniru perangai dan amalan Muthi'ah.”

Melihat rintihan puterinya itu, Rasululah tersenyum sambil berkata, “Wahai anakandaku, janganlah anakanda susah hati. Perempuan yang anakanda jumpa itu (Muthi'ah) ialah perempuan yang akan memimpin dan memegang tali tunggangan anakanda tatkala anakanda masuk syurga nanti. Jadi dialah yang akan masuk terlebih dahulu daripada anakanda.”

Setelah mendengar penjelasan ayahandanya itu, barulah nampak Fatimah mulai gembira dan tersenyum.

Begitulah ganjaran yang Allah berikan kepada Muthi'ah. Semoga amalan yang dilakukannya itu sedikit sebanyak akan menjadi panduan dan dorongan kepada wanita-wanita terutama bagi mereka yang sudah berumahtangga.

Tidak ada komentar: